Laksmi mengirim sms sesaat sebelum aku pulang dari Yasmin. ‘Pernah bersyukur dilahirkan sebagai perempuan? Hari ini hari yg tepat untuk melakukannya (lagi). Selamat Hari Perempuan’.

Reaksi pertamaku membaca pesan itu adalah suatu penolakan besar. Pernah memang sesekali terlintas enak juga yah jadi cowok, bisa pulang malam tanpa rasa riskan takut ada apa-apa, bisa pergi mengambil kesempatan ke mana saja dan kapan saja dengan cepat dan bebas, ah apa yg mereka tidak bisa. Tetapi untuk tidak bersyukur karena dilahirkan menjadi perempuan, wah tidak tuh.

Saya adalah anak pertama dari dua bersaudara. Adik saya laki-laki. Ayah dan ibu saya adalah orang yg berhasil menanamkan bahwa tidak ada yg tidak bisa dilakukan oleh perempuan, seperti juga apa yg bisa dilakukan oleh laki-laki. Walau pernah Mama khawatir dan sempat melarangku untuk tidak aktif dalam kegiatan Palasi (Pencinta Alam Anak SMA I) Jakarta, tapi diralat oleh Bapak. ‘Silakan saja kalau kamu mau ikut naik gunung atau kegiatan outdoor lainnya. Kami akan memberimu kepercayaan yg harus kamu jaga. Kalau kamu merusak kepercayaan yg kami berikan, maka kami tidak akan mengijinkanmu pergi kemana-kama’.

Amazing, kata sakti itu membuatku terpacu, dan malah berhati-hati dengan sendirinya. aku akan selektif dalam memilih teman, agar terhindar dari hal-hal yg sangat ditakutkan perempuan umumnya. Tapi entah keberanian dari mana, kalau sejak SMA memang sudah biasa pulang malam bahkan dini hari setelah kegiatan-kegiatan itu. Dan itu terus berlanjut sampai kuliah di IPB, Fahutan lagi. Hehehe setelah married, yah berubah lah sdikit, khan udah ada yg mengkhawatirkan sekarang …

Terkadang ada rasa takut itu, tapi kemudian diam sambil pasang wajah ‘penolakan’ yg berisi pesan, dilarang godain, yg ternyata kesan wajah itu terus kebawa sampe sekarang, hehehe. Aku akan memilih tempat duduk di bis yg strategi, misalnya dekat supir atau ngobrol sama kondekturnya. Jika agak penuh, maka akan m ilih duduk dekat bapak-bapak yg sepertinya baik hati. Mungkin karena ini pulalah, insting ku menjadi semakin terasah tentang ‘membaca orang’.

Bu Meilani, seorang guru favorit suamiku yg sekarang menjadi guruku juga, adalah seorang aktivist perempuan, pernah bertanya di dalam kelas, ceritakan tentang persoalan gender yg kamu pernah alami. Dengan lantang kukatakan padanya bahwa saya merasa isu gender terlalu dibesar-besarkan. Dari seluruh kehidupan saya sampai saat ini, saya merasa tidak bermasalah dengan persoalan jenis kelamin dan segala atribut menempel dengannya. Mungkin memang benar bahwa saya dibekali dari rumah suatau keyakinan agar tidak usah terhambat dengan adanya isu gender ini. Tetapi terkadang saya sendiri lupa, atau meng-ignore bahwa permasalahan gender juga terjadi menimpaku, atau menimpa kaum perempuan. mungkin aku saja belum bisa melihat dan oleh karenanya tidak bisa memahami apa itu gender.

Seorang teman hendak membeli mobil tetapi agak tersendat karena dia tidak memiliki KTP Bogor. Sang salesman, yg juga teman lama berusaha mati-matian mencari pinjaman nama, KTP dan Kartu Keluarga untuk kepentingan ini. Di suatu sore Bogor yg panas karena sudah empat hari ini tidak turun hujan, datanglah dia memohon-mohon ke Iwak (yg memang orang Bogor) yg sedang sibuk mempersiapkan trip besok. ‘sudahlah Wa, ayo kita pulang ke rumahmu sekarang, biar cepat beres nih’. Iya elo yg beres, gmana dengan kerjaan gue, ujarnya mengajukan keberatannya. Kenapa nggak pinjam KTP nya Dion, dia khan orang Bogor juga dan rumahnya deket tuh di Cimanggu, lanjut Iwa. Iya, dia tuh orang Bogor, timpalku menyemangati. ‘Ah susah, ntar kudu nanya dulu suaminya, ribet lah’.

Aku terdiam mendengar drama satu babak itu. Itu semua menjawab keherananku, kenapa tuh anak tidak datang ke padaku dan bertanya hal yg sama. Kenapa dia hanya datang dan mencari teman laki-lakinya saja. padahal diam2 aku gerendeng, aku juga punya KTP, KK, dan dua rumah yg semuanya atas namaku. Aku jadi ingat Bu Melanie guru genderku dalam mata kuliah Perubahan Sosial.

Betul, bahwa society punya pandangan tertentu tentang perempuan, yg itu seringkali menghalangi hak dan kebebasannya berekspresi, mungkin tidak secara langsung tapi tetep saja terhalangi khan. Atau dalam kasusku mungkin malah kebeneran nggak ditanyain jadi ‘aman’ lah dari tanggung jawab menanggung beban tagihan orang lain.

Ini mungkin bukan contoh yg spektakuler yg bisa menunjukkan bagaimana hak perempuan terbelenggu. Tapi buatku jadi ganjalan, kenapa gue nggak ditanyain?????. Kenapa hanya Iwak dan teman laki-laki ku saja yg mendapat pertanyaan itu. Elo pikir kalau perempuan tidak bisa ngeluarin KTP, KK, dan surat tanahnya untuk menolong seorang teman. Elo pikir kalau elo nanya ke Iwak maka dia tidak perlu nanya istrinya terlebih dahulu. Apakah sudah jadi asumsi yg 100% benar, kalau suami yg nanya maka si istri akan ikut saja. ah kasihan sekali perempuan.

Aku bersukur menjadi perempuan, bukan hanya karena 8 Maret ditetapkan menjadi Hari Perempuan, di setiap nafasku aku adalah perempuan. Seorang istri dari suamiku, dan ibu dari anak-anakku, teman perempuan dari banyak kawan laki-lakiku dan menjadi teman perempuan yg bisa memberi pengertian bagaimana cara laki-laki berpikir bagi sedikit teman perempuanku.

Selamat Hari Perempuan Mbak Laksmi …