Menarik Akulturasi Tionghoa di Bali

Entah kenapa Bali yg kupilih pertama untuk mengulas soal Akulturasi Tionghoa di Nusantara. Mungkin karena semua orang tahu Bali. Juga bentuk akulturasinya nyata banget terlihat. Seorang putri Tionghoa disembayangi disimpan di pura pribadi keluarga Bali.

Ada banyak daerah lain di berbagai provinsi yg punya cerita menarik bagaimana proses akulturasi Tinghoa dengan budaya lokal. Aneka budaya baru pun lahir, mulai kuliner, pakaian, ritual kepercayaan dsb.

Di Museum Hakka di Taman Mini Indonesia Indah, ada satu dinding yg menggantung informasi soal Tionghoa di Bali. Lengkap ditulis dalam bahasa Indonesia, Mandarin dan Inggris. Sebuah boneka patung Bali terbuat dari uang kepeng kuno Tiongkok yg disimpan dalam kotak kaca ditaruh di bawah papan info itu.

Berikut kutipannya, ditulis oleh Li Zhuo Hui:
Putri Tionghoa bernama Kang Cing Wie (Balingkang) adalah anak seorang saudagar Tiongkok. Pada abad ke-12, Kang datang mengikuti ayahnya berdagang di Bali. Kang cantik berkulit putih dan amat pintar. Raja Bangli Bali berulang kali melamarnya untuk dijadikan istri.

Empat syarat diajukan sang putri. 1) Perdagangan setempat harus bertransaksi dengan uang kepeng Tiongkok; 2) Rakyat harus memeluk agama Budha Mahayana.

Sebuah istana dibangun di Desa Pinggan, Bangli. Jasanya membantu mensejahterakan rakyat dikenang dalam sebuah pura bernama Pura Dalem Balingkong.