Buruh Tambang Tionghoa di Belitong

Belanda mengirim orang Tionghoa dari Jakarta ke Belitong untuk dipekerjakan menjadi buruh timah di sana karena mereka memiliki fisik dan daya tahan yg kuat dibanding orang lokal, begitu keterangan sang interpreter yg mengantar kami berkeliling Museum Hakka di Taman Mini Indonesia Indah bulan April lalu. Mengejutkan buat kami mendengar info ini, sambil mencermati poto yg dipajang di dinding museum. Koleksi poto-poto hasil ngopi dari KITLV Belanda. Beneran rasanya seperti berada diantara para tambang buruh timah saat melihat poto-poto ini.

Perusahaan swasta Billiton Maatschappij, atau Billiton Mij berdiri tahun 1850. Beberapa perusahaan turunannya terus berkembang hingga tahun 1958. Kehadiran perusahaan ini mengubah wajah alam Belitong dan demografi penduduknya. Kehadiran perusahaan membutuhkan banyak pekerja murah. Migrasi penduduk pun terjadi.

Mustinya ada banyak novel soal kepedihan kehidupan buruh tambang. Seperti Andre Hirata yg berhasil mengangkat ekspresinya bahkan sampai ke level internasional. Tapi kenapa malah gak banyak novel atau buku yg beredar soal segala kepedihan ini yah? Ah balik lagi, budaya menulis kita.