Sore di Bojong Ciliwung

Ketemu Agnes di Bojong tahun 2012. Dipersiapkan menjadi atlet kayak kata Kikuk bangga. 345adventure adalah singkatan nama mereka, Eka, Reza, Agnes.

Jpeg

Orang datang dan pergi di Bojong. Orang datang karena punya kepentingan. Orang pergi karena dirasa sudah cukup. Dimana posisi orang lokal. Apakah kepentingan orang lokal bisa terakomodir dalam hiruk-pikuk ini. Siapa juga yg bisa mencermati dan speak up ketika dibutuhkan. Kemampuan bernegosiasi orang lokal menghadapi orang yg datang dan pergi.

Masyarakat tidak statis tapi ikut berubah ngikutin perkembangan yg ada. Warungnya Mpok Ati jadi beda banget dilihat dari arah rumahnya Duloh. Sebuah jalan semen yg permanen, beberapa bangunan rumah yg temboknya tidak diplester, bambu yg semakin rimbun, pelataran yg penuh dedaunan, beneran beda banget wajah nih jembatan Pagersi. Ditemukan 3 ekor ular sanca menjadi indikator kalau habitat mereka terganggu.

Siapa yg bisa menahan pembangunan dan perubahan? Ke arah yg lebih baik dan sustainable, itulah yg seharusnya dilakukan.

Jokir dalam sebuah acara bergengsi (pake English, speakernya orang ngetop urusan air, ada ADB yg buka acara) di Jakarta mempresentasikan keynote speaker yg ditayangkan di internet. http://www.indonesia-wlw.com/Presentation/0_0%20Keynote%20Pak%20Djoko%20Kirmanto.pdf. Cek halaman 5.

RTRW tuh berbasis administrasi. Pola dan Rencana PSDA berbasis WS. Rencana Pengelolaan DAS berbasis DAS. Kalimat yg sepertinya sederhana ini dilakukan oleh kementrian berbeda. Penataan ruang dibawah Dirjen Penataan Ruang, Kementrian PU. Sumber Daya Air dibawah Dirjen Sumber Daya Air, juga Kementrian PU. Sedangkan isu konservasi hutan dibawah kekuasaan Dirjen Pengelolaan Daerah Aliran Sungai dan Perhutanan Sosial, Kementrian Kehutanan.

Kapan dan bagaimana mereka bersinergi ngomongin aspirasi masyarakat. Ayo Pak, Ibu pejabat, mari sini ngobrol di pinggir kali ajah. Sesekali nepukin nyamuk gapapa lah. Hiburan dan musik alami. Jadi bisa mengerti jalan berpikir dan dinamika masyarakat pinggiran sungai.

jokir

Ngomongin air beberapa hari ini. Persiapan presentasi di UKM minggu depan. Posting hasil studi di medsos. Terlibat dalam beberapa percakapan medsos. Dan mampir ke Bojong untuk klarifikasi lapang. Rangkaian yg harus dibayar untuk sebuah tiket jalan2 dan menulis air.

Perhatian terhadap pengelolaan sungai tidak pupus. Kesejahteraan dan standar hidup masyarakat pinggiran sungai juga jadi perhatian. Kelompok perempuan dan anak2 berkumpul di rumah Duloh menikmati siang menjelang sore yg panas. Semilir angin Ciliwung diantara desiran bambu memang ngebetahin nongkrong di Bojong.

Terminal benih, feedstock, pameran Hari Lingkungan Hidup di Pemda Bogor, semangat jualan bunga telang, semangat menanam sayuran di sekitaran rumah, pelibatan publik ke dalam pengelolaan air, IRBM atau IWRM, apapaun itu. Mereka masih di sana. Hidup dengan kehidupannya.

Para Perintis, individu lepasan, Martani, anggota Wanadri, pemilik warung, semuanya duduk membicarakan perubahan apa yg ingin kita lihat terjadi di pinggiran Ciliwung Bojong. Semua datang dengan keinginan dan kebutuhan masing-masing. Dimana kompromi dan simpangan yg asik buat semua, itu yg musti sering2 diobrolin di pinggir kali.

Dengerin Ambon cerita soal terminal benih dan evaluasi kegiatan Komunitas Ciliwung dengan nursery-nya. Juga denger Mpok Nung bersemangat mau jualan teh biru bunga telang di warungnya dan saat jaga stand pameran di Pemda Hari Lingkungan Hidup. Ada Asun yg curcol dengan pancingan ikan Pulau Tidung dan oleh-oleh ikan bandeng dari Hulu Cisadane. Daus bilang, dari mulai gali sumur sampe nyablon baju, semuanya dijabanin. Reza dan Agnes walau tidak banyak bicara tapi mereka bergerak menjadi petunjuk jalan sore2, identifikasi tanaman lokal. Mereka mah lanjut maen kayak merah digotong ke Ciliwung. Dan semua orang bicara. Itulah bersinergi diantara kita – publik di DAS Ciliwung.

Seruput dulu teh biru bunga telang dan perasan jeruk metik dari kebun jerung si aBang.