Buku atau Baju?

Banyakan mana, buku atau baju? Haha. Apa buku favorit mu. Apa baju favoritmu. Bagaimana anda memperlakukan buku dan baju mu. Ini cerita lintas waktu, 1994-2017 dan lintas benua, PDX, USA-Prambanan, Jogjakarta. Emang Prambanan benua haha.

 

img1491394021065

Sceleton in the closet haha.

Cerita Buku

Waktu tinggal di Limasan Prambanan di Dusun Cepoko, Bugisan, kami menaruh rak buku di areal ruang belakang, bersebelahan dengan ruang dapur. Seorang kawan berkebangsaan Prancis, protes. Wah buku sebelah dapur katanya. Tidak ada penjelasan dan diskusi lanjutan. Karena pesannya sangat jelas, buku sebaiknya disimpan di tempat aman jauh dari cipratan minyak atau tumpahan air saat memasak.

Parahnya lagi tuh rak buku berubah fungsi menjadi tempat menyimpan aneka bumbu masak dan tepung kue. Bukunya dipindah masuk ke dalam kardus. Haha. Untuk beberapa bulan tuh buku beneran aman, alias gak ada yg baca.

Koleksi buku kami terus merangkak naik jumlahnya. Melebihi kecepatan kami mencerna. Haha. dudududu… Speed reading bukannya ikut menanjak malah gagayaan yg ada. Seperti keren membeli buku tapi kemudian tertumpuk-tumpuk dalam menyelesaikan membacanya.

Kecuali buku di rak bagian depan warung. Yes kami membangun sebuah rak buku dari kayu alba, sederhana saja, menjadi penghalang agar pintu kamar mandi sedikit terhalang. Setidaknya tetamu warung pecel bisa merasa nyaman duduk tanpa merasa risih dengan pintu kamar mandi depan.

Buku komik dan populer kami jajarkan di rak buku depan. Tetamu banyak yg datang membaca dan beberapa meminjam (aihhhh gak banget deh minjemin buku haha). National Geografi banyak tuh yg suka. Komik dora emon juga.

Pernah kejadian, seorang mbah-mbah petani memilih masuk lewat pintu samping saat berniat membeli pecel. Sa kira ini perpustakaan katanya. Memang tidak banyak warung pecel yg menyediakan buku bacaan di areal dagangnya.

img1491393809312

Meja belajar di apartemen Sunset Rise di PDX, USA. 1994.

Setelah kami pindah ke Limasan Tulung, Kalasan, si rak buku kembali berfungsi semestinya. Buku-buku kembali dijajarkan dan para tetamu datang melihat jajaran koleksi. Beberapa juga meminjam (sangat tidak direkom haha. Tetapi tentunya berguna), sebagian membaca di tempat sambil menikmati aliran semilir angin rumah tipe jawa berkayu, atap tinggi mancung di bagian tengah. Cocok deh dengan udara di Tanah Merapi ini. Tapi kenapa banyak orang malah membangun tipe rumah bersemen dengan gaya ahhh seadanya tanpa filosofi!!??@@###$% grrrrr…

Cerita Baju

Baju mah gak usah banyak-banyak. Daleman aja yg penting cukup, biar gak gatelan haha. Daster dan baju santai, apalagi kalau suka ke kebun dan sawah. Penting tuh dress code tangan panjang dan celana panjang nyaman. Biar asik kerja di bawah matahari. Beberapa baju batik untuk menghadiri workshop dan kawinan. Jaket anti hujan dan angin. Gitu sih.

Bu Mul (sebut saja begitu) bercerita tentang kiriman baju dari anaknya yg tinggal di Taiwan. Dia bilang anaknya beli baju di pasar di Taiwan tuh, bisa 2-3 kali seminggunya. Baju murah-murah dan modelnya lucu-lucu. Belum kalau ganti musim, maka model dan ketebalan bahan menjadi pertimbangan. Saltum (salah kostum) bisa jadi bahaya. Per 6 bulan, baju-baju milik anaknya tuh, dikirim ke Prambanan. Si Bu Mul dengan senang hati mendapat limpahan baju bekas yang masih baru.

Gak salah di toko-toko cakar, toko baju bekas yg masuk ke Indonesia dibungkusin dalam karung-karung, bal-bal-an jumlahnya, idih banyak banget. Di daerah Makasar, Kendari, Jambi, Riau, (beberapa kota yg kebetulan pernah dimampirin), banyak toko cakar. Memang lucu-lucu PLUS harga miring. Katanya gak sehat karena banyak kuman dsb. Tapi banyak aja tuh yg beli.

Di Jogja sini, toko cakar belum pernah masuk sih. Kayaknya agak jarang. Orang sini lebih suka menghabiskan waktu luangnya dengan makanan, nongkrong di angkringan, hidangan kuliner maklum kota turis khan.

Mustinya toko cakar yg menjual batik gitu, banyak yah di luar negri. Haha. Itu kalau batik bisa diterima masyarakat internasional. Menjadi bergengsi-lah ibaratnya kalau make tuh kain. Sekarang sih baru nasional lah, ada hari batik nasional dan hari batik setiap Jumat di kantor pemerintahan. Dan batik seragam khusus di setiap sekolah. Harus terus dibuat lah usaha-usaha membatikkan diri dan bangsa. Biar para artisan lokal senang dan sejahtera.

Eh kebiasaan membeli barang bekas tuh, banyak juga di Belanda dan Amerika (itu yg saya tahu). Garage Sale. Mereka menjual barang2 yg gak kepake pada hari Sabtu-Minggu, di garasi atau halaman depan rumahnya. Lumayan bisa dapat itu tuh, meja, lampu baca, mainan puzzle atau apalah lucu-lucu. Jaket musim dingin beli lah saat garage sale summer, misalnya. Lumayan tuh harganya.

Ada temen yg biasa membeli dan menjual barang second begitu. Koleksinya keren-keren. Menggunakan jaringan pertemanannya, dia mampu mendapatkan barang murah dan bagus.

Jadi cerita tentang koleksi buku atau baju, sama serunya.